KENDARI — Universitas Muhammadiyah Kendari, khususnya Fakultas Cyber Security, menghadirkan rangkaian kegiatan olahraga dan seni budaya yang meriah pada Senin, 31 Maret 2026. Acara yang bertajuk “Cyber Culture Festival 2026” ini menjadi wadah apresiasi mahasiswa terhadap kekayaan budaya lokal Sulawesi Tenggara sambil mempererat ikatan akademik di antara komunitas kampus.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini dimulai sejak pagi dan melibatkan lebih dari 500 mahasiswa dari berbagai program studi. Festival ini menggabungkan dua dimensi penting dalam pengembangan karakter mahasiswa: aspek fisik melalui berbagai cabang olahraga dan aspek seni budaya yang mencerminkan jati diri lokal Kendari.
Latar Belakang dan Visi Acara
Pelaksanaan Cyber Culture Festival 2026 bukan kebetulan semata. Ini merupakan inisiatif strategis Fakultas Cyber Security untuk memastikan bahwa pendidikan teknologi informasi tidak terlepas dari pemahaman nilai-nilai budaya lokal. Dalam era digitalisasi yang begitu cepat, Fakultas Cyber Security Unmuh Kendari meyakini bahwa mahasiswa perlu tetap menjaga akar budayanya.
“Kami percaya bahwa seorang profesional cyber security yang baik bukan hanya yang menguasai teknologi, tetapi juga memahami konteks budaya dan sosial masyarakatnya,” ujar Dr. Bambang Setiawan, S.Kom., M.T., Dekan Fakultas Cyber Security Unmuh Kendari, dalam konferensi pers pembukaan acara pada pukul 09.00 WITA.
Menurut Dr. Bambang, gagasan ini muncul dari refleksi mendalam terhadap pembelajaran selama dua tahun terakhir. Mahasiswa Cyber Security Unmuh Kendari, mayoritas berasal dari Sulawesi Tenggara, perlu memiliki pemahaman holistik tentang kebutuhan teknologi di tingkat lokal sebelum berkontribusi pada skala nasional dan global.
Rangkaian Kegiatan Olahraga
Dalam aspek olahraga, festival ini menghadirkan berbagai cabang permainan yang dirancang untuk meningkatkan semangat kolaborasi dan sportivitas. Panitia telah menyiapkan delapan cabang olahraga utama dengan format kompetisi tim lintas angkatan.
Cabang pertama adalah futsal, yang dilangsungkan di Gedung Olahraga Kampus Unmuh Kendari dengan standar internasional. Tim-tim yang terdiri dari 5-6 pemain per regu berlaga dengan intensitas tinggi. Pertandingan dimulai sejak pagi dengan format round-robin untuk menentukan empat tim semifinalis.
Selain futsal, ada juga kompetisi bola voli yang diikuti oleh 12 tim putri dan putra terpisah. “Antusiasme mahasiswa terhadap cabang bola voli sangat luar biasa. Kami sempat harus menambah jadwal pertandingan karena banyaknya peserta yang mendaftar,” kata Hendra Wijaya, S.Pd., Koordinator Bidang Olahraga Panitia Cyber Culture Festival 2026.
Cabang ketiga adalah badminton dengan sistem gugur yang melibatkan 64 peserta dalam kategori tunggal dan ganda. Lapangan badminton di area terbuka Kampus Unmuh Kendari diatur sedemikian rupa untuk memaksimalkan efisiensi waktu dan keselamatan peserta.
Selanjutnya, ada kompetisi tenis meja yang menghadirkan mahasiswa dengan berbagai tingkat kemampuan. Panitia dengan cermat membagi peserta ke dalam beberapa kategori sesuai dengan level permainan mereka, memastikan kompetisi tetap fair dan menyenangkan.
Cabang kelima adalah sepak takraw, olahraga tradisional yang memiliki akar kuat di Sulawesi Tenggara. Pemilihan olahraga ini secara sengaja dilakukan untuk menghidupkan kembali apresiasi mahasiswa terhadap permainan lokal yang kaya akan nilai-nilai tradisional.
“Sepak takraw bukan sekadar olahraga. Ini adalah warisan budaya kita yang perlu dilestarikan. Dengan memasukkannya dalam festival ini, kami berharap generasi muda lebih menghargai keunikan olahraga lokal,” jelas Dr. Bambang Setiawan dalam kesempatan lain.
Dua cabang olahraga lainnya adalah lari maraton 5 kilometer dengan rute yang melewati area kampus dan sekitarnya, serta catur dengan partisipasi dari klub catur mahasiswa Unmuh Kendari. Lari maraton dirancang untuk meningkatkan kesadaran kesehatan, sementara catur dihadirkan untuk menantang aspek strategis dan intelektual peserta.
Terakhir, panitia juga menyediakan cabang olahraga pantomim dan senam aerobik untuk memberikan variasi kegiatan yang lebih beragam dan inklusif bagi mahasiswa dengan preferensi berbeda.
Dimensi Seni Budaya: Menjaga Tradisi di Era Digital
Tidak kalah meriah dengan kompetisi olahraga, rangkaian acara seni budaya menjadi sorotan utama Cyber Culture Festival 2026. Panitia menghadirkan lebih dari 15 jenis kegiatan seni yang mengeksplorasi kekayaan budaya Sulawesi Tenggara.
Pertama adalah pameran batik lokal dan tenun tradisional dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara. Para pengrajin lokal secara langsung memproduksi dan memamerkan karya-karya mereka di lapangan tengah kampus. Mahasiswa berkesempatan untuk melihat langsung proses pembuatan batik dan berinteraksi dengan para ahlinya.
“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa di balik setiap karya seni tradisional ada cerita, teknik, dan nilai budaya yang mendalam. Ini adalah cara kami menghubungkan pendidikan formal dengan kearifan lokal,” ungkap Siti Nurhaliza, M.Sn., dosen pembimbing untuk kegiatan seni dan budaya.
Kedua, ada pertunjukan tari tradisional Kendari dan sekitarnya. Mahasiswa yang memiliki keahlian dalam tari mempersiapkan beberapa nomor pertunjukan yang dipresentasikan pada sore hari. Tarian-tarian ini termasuk Tari Cakalele, Tari Patanggalangi, dan beberapa tarian lokal lainnya yang menjadi identitas budaya daerah.
Ketiga adalah lomba cipta lagu dan puisi dengan tema “Kendari di Era Digital”. Peserta didorong untuk menciptakan karya yang menggabungkan semangat tradisional dengan pemahaman kontemporer tentang perkembangan teknologi. Sejumlah mahasiswa dari Program Studi Cyber Security Unmuh Kendari menunjukkan kreativitas mereka dengan menciptakan lirik yang cerdas dan relevan.
Keempat, panitia menyelenggarakan workshop seni rupa yang melibatkan mahasiswa dalam membuat karya seni instalasi bertema “Identitas Digital Lokal”. Peserta diminta menciptakan karya visual yang mengeksplorasi bagaimana teknologi digital mempengaruhi identitas budaya mereka.
Kelima, ada pertunjukan musik tradisional yang menampilkan alat-alat musik lokal seperti gitar tradisional, rebana, dan alat musik perkusi lainnya. Kelompok musik mahasiswa Unmuh Kendari memainkan lagu-lagu tradisional yang telah diarransemen ulang dengan sentuhan modern, menciptakan harmoni sempurna antara tradisi dan inovasi.
Enam, panitia mengadakan pertunjukan teater rakyat yang mengangkat kisah-kisah lokal Kendari. Naskah teater ditulis oleh mahasiswa Unmuh Kendari sendiri, menunjukkan bahwa kreativitas akademik dapat berkontribusi pada pelestarian cerita-cerita lokal.
Selain itu, ada juga kompetisi fotografi dengan tema “Wajah Kendari: Tradisi dan Modernitas” di mana mahasiswa menangkap momen-momen yang menunjukkan dinamika pertukaran budaya di Kendari. Hasil karya fotografi terbaik akan dipamerkan di galeri seni kampus selama satu bulan ke depan.
Dimensi seni budaya juga mencakup pameran kerajinan tangan mahasiswa, kompetisi desain grafis yang menggabungkan motif tradisional dengan aesthetic modern, dan workshop batik yang memungkinkan semua peserta untuk mencoba langsung membuat batik sederhana.
Pesan dari Pimpinan Universitas
Dr. Ir. Muh. Irfan Syaiful Rachman, M.Sc., Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, memberikan sambutan yang penuh makna pada pembukaan resmi acara pada pukul 10.30 WITA.
“Cyber Culture Festival 2026 adalah bukti nyata komitmen Universitas Muhammadiyah Kendari dalam mengembangkan mahasiswa yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga beriman, berakhlak mulia, dan mencintai budaya sendiri. Ini sejalan dengan nilai-nilai Muhammadiyah yang selalu mempromosikan keseimbangan antara kemajuan dan tradisi,” ujar Rektor Irfan.
Lebih lanjut, Rektor menekankan bahwa dalam era Industri 4.0 dan sekarang memasuki era Industri 5.0 yang lebih menekankan pada aspek humanisasi, mahasiswa perlu dibekali dengan pemahaman holistik tentang masyarakat dan budaya mereka.
“Teknologi adalah alat, bukan tujuan akhir. Tujuan akhir adalah bagaimana teknologi dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan membantu melestarikan nilai-nilai budaya yang telah membangun peradaban kita,” katanya dengan penuh keyakinan.
Dampak dan Harapan ke Depan
Kehadiran Cyber Culture Festival 2026 diharapkan memberikan beberapa dampak positif jangka panjang. Pertama, meningkatkan kesadaran mahasiswa Cyber Security tentang pentingnya literasi budaya lokal dalam konteks pekerjaan profesional mereka.
Kedua, festival ini menciptakan ruang diskusi dan kolaborasi lintas program studi di Unmuh Kendari. Mahasiswa dari Fakultas Cyber Security berinteraksi dengan mahasiswa dari fakultas lain, menciptakan sinergi akademik yang lebih kaya.
Ketiga, kegiatan ini menjadi sarana dokumentasi dan pelestarian budaya lokal melalui medium digital dan modern. Beberapa hasil dokumentasi dari acara ini akan dikurasi menjadi konten digital yang dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
Keempat, Cyber Culture Festival 2026 diharapkan menjadi momentum bagi mahasiswa Unmuh Kendari untuk berkontribusi pada pengembangan teknologi yang kontekstual dengan kebutuhan lokal. Misalnya, beberapa mahasiswa sudah menunjukkan inisiatif untuk mengembangkan aplikasi digital yang mendokumentasikan cerita-cerita budaya lokal Kendari.
Panitia festival juga menyiapkan dokumentasi lengkap dari semua kegiatan, baik dalam bentuk video, fotografi, maupun tulisan, yang akan dipublikasikan melalui berbagai saluran media kampus dan media sosial Unmuh Kendari.
“Kami ingin festival ini tidak hanya menjadi kenangan sesaat, tetapi juga menjadi catatan sejarah penting tentang bagaimana generasi mahasiswa Unmuh Kendari pada 2026 memandang hubungan antara teknologi dan budaya lokal,” jelas Hendra Wijaya, koordinator bidang olahraga.
Partisipasi dan Antusiasme Mahasiswa
Tingkat partisipasi mahasiswa dalam festival ini sangat menggembirakan. Panitia mencatat lebih dari 85% mahasiswa Fakultas Cyber Security aktif berpartisipasi dalam salah satu atau lebih kegiatan yang tersedia.
Salah satu peserta, Rasyid Pratama, mahasiswa semester 4 Program Studi Cyber Security, mengungkapkan kesan positifnya: “Awalnya saya pikir sebagai mahasiswa cyber security, kami hanya fokus pada teknologi. Tapi festival ini membuka mata saya bahwa ada banyak nilai dalam budaya lokal kita yang bisa kami eksplorasi dan bahkan integrasikan dengan keahlian teknologi kami.”
Peserta lainnya, Siti Rahmawati, mahasiswa semester 3, sangat antusias terhadap kompetisi seni. “Saya senang bisa menampilkan tari tradisional Kendari sambil tetap menunjukkan bahwa generasi muda tidak melupakan akar budayanya. Ini adalah kesempatan langka untuk menunjukkan multiple talents kita,” ujarnya dengan senyuman lebar.
Catatan Penutup
Cyber Culture Festival 2026 Fakultas Cyber Security Universitas Muhammadiyah Kendari berhasil menunjukkan bahwa pendidikan teknologi modern dan apresiasi budaya lokal bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dapat bersinergi dengan harmonis. Melalui kegiatan olahraga dan seni budaya ini, mahasiswa Unmuh Kendari membuktikan bahwa mereka adalah generasi yang tidak hanya kompeten di bidang teknologi, tetapi juga peduli terhadap pelestarian warisan budaya.
Ke depannya, diharapkan kegiatan serupa dapat menjadi bagian integral dari kurikulum ekstrakurikuler Facultas Cyber Security Unmuh Kendari secara berkelanjutan, menciptakan ekosistem akademik yang benar-benar holistik dan relevan dengan konteks lokal Kendari dan Sulawesi Tenggara secara luas.
Festival ini juga memberikan pesan penting bagi institusi pendidikan lainnya tentang pentingnya mengintegrasikan dimensi budaya dalam program-program pendidikan berbasis sains dan teknologi. Dalam menghadapi tantangan masa depan, mahasiswa memerlukan tidak hanya keahlian teknis, tetapi juga pemahaman mendalam tentang nilai-nilai sosial, budaya, dan kemanusiaan yang menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi yang berkelanjutan dan bermakna.
—
Penulis: Tim Jurnalistik Kampus Universitas Muhammadiyah Kendari | Fotografer: Dokumentasi Panitia Cyber Culture Festival 2026 | Editor: Bagian Public Relations Unmuh Kendari